SDM Terbatas Semangat Pelayanan Tak Pernah Padam
Oleh : Nurani, S.KM., M.K.M.

Artikel ini sudah pernah dimuat di koran Radar Cirebon edisi Jumat, 15 Mei 2026 di halaman “WACANA”, dan akan dimuat ulang di website Puskesmas Drajat sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi bagi para pegawai di Puskesmas Drajat.

Sebuah Kisah di Puskesmas Drajat
Di balik ruang pelayanan yang ramai, antrean pengunjung yang terus berdatangan serta suara panggilan pelayanan yang saling bersahutan tak pernah berhenti dari tiap-tisap ruang pelayanan. Ada yang luput dari perhatian kita semua yaitu perjuangan petugas pelayanan yang tak kenal Lelah. Perjuangan itu datang dari para tenaga Kesehatan dan pegawai yang terlibat, setiap hari mereka bekerja dengan penuh dedikasi dan loyalitas tanpa batas di Puskesmas Drajat.
Sebagian orang melihat puskesmas mungkin hanya tempat berobat. Dibalik itu semua sesungguhnya puskesmas adalah garda terdepan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Tempat di mana tenaga kesehatan dan pegawai lainnya yang terlibat hadir bukan hanya memberi pelayanan, memberi obat obatan dan tindakan medis, tetapi juga memberi harapan, empati dan kepedulian.
Keterbatasan sumber daya manusia (SDM) bukan alasan, pelayanan di Puskesmas Drajat tetap harus berjalan setiap hari. Mulai dari pelayanan di klaster 2 yang mencakup Kesehatan ibu dan anak, klaster 3 melayani pelayanan Kesehatan usia dewasa dan lansia, klaster 4 mencakup penanggulangan penyakit menular dan kesehatan lingkungan dan lintas klaster meliputi kunjungan rawat jalan termasuk Kesehatan gigi dan mulut, kefarmasian, laboratorium, promosi Kesehatan, perawatan Kesehatan Masyarakat, Kesehatan tradisional, gawat darurat dan rujukan. Selain 4 klaster tadi ada klaster 1 yang mencakup manajemen inti, ketatausahaan dan arsip, kepegawaian, keuangan dan asset, jejaring, mutu dan pemberdayaan masyarakat. Semua dilakukan oleh pegawai puskesmas yaitu tenaga kesehatan dan non tenaga Kesehatan yang jumlahnya belum sepenuhnya ideal.

Berdasarkan hasil Analisis Beban Kerja (ABK) yang diambil dari data Renbut Kemenkes RI th 2023, kebutuhan tenaga kesehatan di Puskesmas Drajat mencapai 34 orang, sementara tenaga yang tersedia saat ini baru 25 orang, untuk non tenaga kesehatan dibutuhkan 12 orang yang tersedia baru 8 orang. Masih terdapat kekurangan 9 tenaga kesehatan dan 4 non tenaga Kesehatan yang harus ditanggung bersama oleh petugas yang ada.
Kondisi tersebut membuat pegawai puskesmas Drajat harus menjalankan beberapa peran sekaligus dalam satu hari. Pagi melayani pasien di ruang pemeriksaan, ada yang posyandu, surveilans, penyuluhan hingga kunjungan rumah. Selanjutnya siang menyelesaikan laporan program dan input kegiatan ke aplikasi masing masing program, bahkan ada kegiatan yang dilakukan sore hari dan di hari libur seperti posyandu remaja, penyuluhan Kesehatan dan piket Pos Kesehatan saat lebaran, Hari Natal dan tahun baru, bahkan event-event penting yang diadakan Dinas Kesehatan atau Pemerintah Kota Cirebon juga disaat ada kejadian yang insidental seperti bencana banjir dan kejadian luar biasa penyakit.
Keterbatasan itu justru melahirkan solidaritas yang kuat. Budaya saling membantu menjadi kekuatan utama pelayanan. Ketika satu petugas kewalahan dalam melaksanakan programnya (misalnya:Cek Kesehatan Gratis/CKG), petugas lain ikut membantu dalam suatu Tim Kerja. Ketika pekerjaan menumpuk, semua bergerak bersama dengan berbagi peran agar pelayanan kepada masyarakat tetap optimal.

Pelayanan Digital yang Semakin Kompleks menjadi Tantangan Baru
Tantangan pelayanan kesehatan saat ini tidak hanya soal jumlah pasien atau keterbatasan tenaga. Era digital justru menghadirkan beban baru yang cukup besar bagi pegawai di puskesmas terutama tenaga kesehatan.
Saat ini pegawai di Puskesmas Drajat harus mengoperasikan lebih dari 50 aplikasi pelayanan dan pelaporan kesehatan. Mulai dari aplikasi harian seperti E-BLUD, SITB, ASIK, E-Puskesmas, P-Care dan SMILE, hingga aplikasi bulanan, mingguan dan insidental lainnya.
Banyaknya aplikasi membuat pegawai puskesmas khususnya tenaga kesehatan tidak hanya bekerja melayani pasien, tetapi juga harus fokus pada penginputan data, pelaporan elektronik, validasi administrasi hingga dokumentasi digital program kesehatan. Beberapa aplikasi terkadang mengalami gangguan sistem atau error sehingga petugas masih harus melakukan pencatatan manual sebagai cadangan. Situasi ini tentu menambah beban kerja administratif yang cukup tinggi.
Di lapangan seorang petugas bisa saja harus:
·melayani pasien
·melakukan edukasi kesehatan
·membuat laporan program
·menginput data aplikasi
·sekaligus mengikuti kegiatan luar gedung dalam waktu yang hampir bersamaan.
Meski demikian pelayanan kepada masyarakat tetap harus berjalan dengan ramah, cepat dan humanis.

Di Balik Senyum Petugas, Ada Perjuangan yang Tidak Ringan
Senyum petugas adalah hal yang harus terjaga saat pelayanan, namun di balik senyum itu ada rasa lelah yang sering disembunyikan demi menjaga kualitas pelayanan. Ada petugas yang harus lembur menyelesaikan laporan, ada yang harus membagi waktu antara pelayanan pasien dan kegiatan program, bahkan ada yang tetap bekerja maksimal meskipun jumlah tenaga di unitnya masih kurang dalam hal ini perawat dan nutrisionis yang masih jauh dari ideal sesuai standar ketenagaan Permenkes Nomor 19 Tahun 2024. Beberapa tenaga administrasi dan pengelola data juga masih diperlukan sebagai tenaga penunjang yang bisa membantu mengurangi beban tenaga Kesehatan dalam melaksanakan tugasnya.
Keterbatasan tersebut tidak membuat pelayanan berhenti. Justru di tengah kondisi tersebut lahir semangat pengabdian yang luar biasa. Para tenaga kesehatan tetap hadir untuk masyarakat dengan penuh tanggung jawab, profesionalisme dan empati. Sejatinya kekuatan utama pelayanan kesehatan bukan hanya fasilitas atau teknologi, tetapi manusia-manusia yang bekerja dengan hati di dalamnya.
Pelayanan Kesehatan Adalah Tentang Ketulusan
Pelayanan kesehatan yang baik tidak selalu diukur dari sarana dan prasarana yang modern saja, ketulusan yang hadir menjadi nilai kualitas dalam pelayanan seperti:
·senyum yang hangat
·sapaan yang ramah
·kesabaran mendengarkan keluhan pasien
·serta keikhlasan membantu masyarakat yang membutuhkan.
Itulah yang terus dijaga oleh pegawai di Puskesmas Drajat. Keterbatasan SDM dan tingginya tuntutan pelayanan digital, tidak membuat patah semangat, mereka tetap berdiri di garis depan demi memastikan masyarakat mendapatkan pelayanan kesehatan yang layak.

Prestasi Menguatkan Semangat Pelayanan
Tingginya beban kerja dan keterbatasan sumber daya manusia, Puskesmas Drajat tetap menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga kualitas pelayanan dan tata kelola kesehatan yang baik. Hal tersebut dibuktikan melalui berbagai penghargaan yang berhasil diraih pada Peringatan Hari Kesehatan Nasional ke-61.
Salah satu penghargaan yang diterima adalah sebagai Puskesmas dengan Laporan Keuangan BLUD Terbaik. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas komitmen, akuntabilitas dan profesionalisme dalam pengelolaan serta pelaporan keuangan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD).
Prestasi tersebut tentu bukan hal yang mudah diraih. Di tengah keterbatasan SDM dan tingginya tuntutan administrasi digital, tenaga kesehatan dan tim manajemen tetap mampu menjaga transparansi serta ketepatan pelaporan keuangan dengan baik. Ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berbicara tentang pelayanan medis, tetapi juga tata kelola organisasi yang profesional dan bertanggung jawab.
Tidak hanya itu Puskesmas Drajat juga mendapatkan penghargaan sebagai Puskesmas dengan Kepatuhan Pelaporan INM dan IKP Terbaik. Penghargaan ini diberikan atas komitmen, ketelitian dan dedikasi dalam pelaporan Indikator Nasional Mutu (INM) dan Indikator Kinerja Program (IKP) secara tepat waktu dan berkualitas.
Prestasi tersebut menjadi bukti nyata bahwa meskipun jumlah tenaga terbatas, semangat untuk memberikan pelayanan terbaik tidak pernah berkurang. Justru di tengah tantangan pelayanan yang semakin kompleks, tenaga kesehatan di Puskesmas Drajat mampu menunjukkan kualitas kerja yang disiplin, adaptif dan penuh tanggung jawab.
Menariknya penghargaan ini diraih ketika para petugas juga harus menghadapi puluhan aplikasi kesehatan, pelaporan program, serta kegiatan pelayanan masyarakat yang berjalan hampir tanpa henti setiap harinya. Kondisi tersebut tidak menjadi alasan untuk menurunkan mutu pelayanan maupun kualitas administrasi.
Selain penghargaan sebagai Puskesmas dengan Laporan Keuangan BLUD Terbaik dan Puskesmas dengan Kepatuhan Pelaporan INM & IKP Terbaik, Puskesmas Drajat juga berhasil meraih penghargaan sebagai:
“Pengelola Perencanaan Kebutuhan SDMK Terbaik Tahun 2024”
Penghargaan ini menjadi bukti bahwa pengelolaan sumber daya manusia kesehatan (SDMK) di Puskesmas Drajat dilakukan dengan serius, terencana dan berbasis kebutuhan pelayanan yang nyata di lapangan.
Di tengah kondisi kekurangan tenaga kesehatan, perencanaan kebutuhan SDMK menjadi hal yang sangat penting. Sebab pelayanan kesehatan yang optimal hanya dapat tercapai apabila kebutuhan tenaga dihitung secara tepat sesuai beban kerja dan jenis pelayanan yang dijalankan. Melalui penyusunan Analisis Beban Kerja (ABK), pemetaan kebutuhan tenaga hingga pengelolaan data ketenagaan yang akurat, Puskesmas Drajat mampu menunjukkan tata kelola SDM yang baik dan terukur.
Prestasi lainnya juga diraih dalam bidang promosi kesehatan masyarakat. Bersama program KOPI TB, Puskesmas Drajat berhasil meraih Juara 2 Lomba Tari Kreasi Jingle TOSS TB dalam rangka Hari Jadi Cirebon ke-598. Prestasi ini menunjukkan bahwa edukasi kesehatan dapat disampaikan dengan cara kreatif, inovatif dan lebih dekat dengan masyarakat.
Bagi keluarga besar Puskesmas Drajat, penghargaan bukan sekadar simbol prestasi. Lebih dari itu penghargaan menjadi pengingat bahwa setiap kerja keras, kerja cerdas, kerja tuntas dan dedikasi yang dilakukan selama ini memiliki arti besar bagi pelayanan kesehatan masyarakat.
Penghargaan tersebut juga menjadi motivasi untuk terus meningkatkan kualitas pelayanan yang humanis, profesional, transparan dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Karena pada akhirnya keberhasilan sebuah puskesmas bukan hanya diukur dari banyaknya program yang dijalankan, tetapi dari konsistensi seluruh tenaga kesehatan dalam bekerja dengan hati, menjaga mutu pelayanan dan tetap memberikan yang terbaik meskipun dalam keterbatasan.