Oleh : Nurani, S.KM., M.K.M. 

Ketika Pelayanan Bertambah, Apakah Jumlah Pegawai Sudah Memadai?

Puskesmas bukan lagi sekadar tempat masyarakat datang untuk mendapatkan pengobatan ketika sakit. Puskesmas saat ini dituntut mampu menyelenggarakan pelayanan kesehatan yang komprehensif, terintegrasi, berkesinambungan, berbasis siklus hidup sekaligus mampu menjalankan fungsi promotif, preventif, kuratif, rehabilitatif, surveilans, pemberdayaan masyarakat, pencatatan dan pelaporan hingga pengelolaan program.

Perubahan pola pelayanan tersebut membawa konsekuensi terhadap kebutuhan sumber daya manusia. Pembagian pelayanan ke dalam klaster membuat pekerjaan menjadi semakin terstruktur, tetapi pada saat yang sama membutuhkan pembagian peran, koordinasi, kompetensi dan jumlah tenaga yang memadai.

Kondisi tersebut juga menjadi perhatian di Puskesmas Drajat Kota Cirebon. Dilihat dari berbagai jenis pelayanan dan program yang harus berjalan secara bersamaan, analisis kebutuhan pegawai tidak cukup hanya melihat jumlah pegawai secara keseluruhan. Lebih penting lagi adalah melihat siapa yang tersedia, berada di klaster mana, memiliki kompetensi apa serta apakah jumlah tersebut sebanding dengan beban pelayanan yang harus dilaksanakan.

Kebutuhan pegawai harus dilihat sebagai kebutuhan organisasi secara menyeluruh, bukan sekadar kebutuhan individu atau profesi tertentu.

SDM: Antara Jumlah, Beban Kerja dan Tuntutan Pelayanan

Pelaksanaan pelayanan di Puskesmas Drajat telah memiliki tenaga kesehatan dan tenaga pendukung dengan berbagai latar belakang profesi. Distribusi tenaganya belum sepenuhnya seimbang dengan kebutuhan pelayanan.

Hasil analisis kebutuhan berdasarkan standar menunjukkan masih terdapat beberapa kekurangan yang perlu mendapatkan perhatian, terutama pada tenaga tertentu.

Beberapa kesenjangan yang terlihat antara lain kebutuhan dokter layanan primer, perawat, nutrisionis, psikolog klinis dan fisioterapis.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan SDM bukan semata-mata "kurang pegawai", tetapi juga mengenai ketepatan distribusi pegawai berdasarkan fungsi dan beban kerja.

Seorang pegawai dapat terlihat cukup apabila dihitung berdasarkan jumlah orang, tetapi menjadi tidak cukup ketika dihitung berdasarkan jumlah pelayanan, program, kegiatan administrasi, pencatatan, pelapora dan tuntutan koordinasi yang harus diselesaikan.

Klaster 1: Manajemen

Klaster 1 merupakan fondasi yang memastikan seluruh pelayanan puskesmas dapat berjalan secara terarah dan terkendali.

Kebutuhan tim pada Klaster 1 tidak hanya berkaitan dengan administrasi. Di dalamnya terdapat fungsi manajemen inti, ketatausahaan, pengelolaan SDM, sarana prasarana, mutu pelayanan, perencanaan, pengelolaan keuangan, jejaring serta berbagai kebutuhan administrasi dan pelaporan.

Beban kerja Klaster 1 juga meningkat seiring dengan banyaknya sistem dan aplikasi yang harus dioperasikan oleh petugas. Pencatatan dan pelaporan tidak lagi dilakukan melalui satu sistem, tetapi tersebar pada berbagai aplikasi program dan sistem pemerintahan.

Kebutuhan tim Klaster 1 perlu diarahkan pada:

1. Tim Manajemen Inti;

2. Tim Ketatausahaan;

3. Tim Pengelola SDM;

4. Tim Sarana dan Prasarana;

5. Tim Mutu dan Keselamatan Pasien;

6. Tim Perencanaan dan Pelaporan;

7. Tim Keuangan;

8. Tim Pengelola Data dan Sistem Informasi;

9. Tim Manajemen Jejaring;

10. Tim Pendukung Administrasi Program;

11. Tim Pemberdayaan,

Khusus untuk fungsi administrasi, diperlukan perhatian lebih serius. Banyaknya aplikasi dan kewajiban pelaporan dapat mengurangi waktu tenaga kesehatan untuk melaksanakan tugas pelayanan apabila seluruh pekerjaan administratif dibebankan kepada petugas pelayanan.

Karena itu, penguatan tenaga administrasi bukan berarti menambah birokrasi, melainkan membebaskan tenaga kesehatan agar dapat kembali fokus pada pelayanan kepada masyarakat.

Klaster 2: Kesehatan Ibu dan Anak

Klaster 2 memiliki karakteristik pelayanan yang membutuhkan kesinambungan. Pelayanan tidak berhenti pada pemeriksaan, tetapi mencakup pemantauan sejak masa kehamilan, persalinan, nifas, bayi, balita, anak usia sekolah hingga remaja.

Kebutuhan tim harus mempertimbangkan kesinambungan pelayanan dan kebutuhan koordinasi lintas profesi.

Tim Klaster 2 idealnya melibatkan:

· dokter;

· bidan;

· perawat;

· nutrisionis;

· tenaga promosi kesehatan;

· tenaga kesehatan lainnya sesuai kebutuhan;

· tenaga administrasi/pengelola data.

Penguatan tim sangat diperlukan untuk memastikan tidak terjadi tumpang tindih pekerjaan dan seluruh sasaran mendapatkan pelayanan sesuai siklus kehidupannya.

Data sasaran juga menjadi komponen penting. Ketepatan data ibu hamil, bayi, balita, anak sekolah dan remaja akan sangat menentukan keberhasilan intervensi. Karena itu, tim tidak hanya membutuhkan tenaga pelayanan, tetapi juga tenaga yang mampu mengelola data secara akurat dan melakukan tindak lanjut terhadap sasaran.

Klaster 3: Kesehatan Dewasa dan Lansia

Klaster 3 menghadapi tantangan yang berbeda. Beban penyakit tidak menular semakin membutuhkan pelayanan yang berkesinambungan, terutama hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, gangguan kesehatan jiwa, masalah gizi serta berbagai kondisi pada kelompok lanjut usia.

Pelayanan pada kelompok dewasa dan lansia tidak cukup hanya dengan mendeteksi penyakit.

Diperlukan sistem yang memastikan pasien:

ditemukan → diperiksa → mendapatkan terapi → patuh berobat → dipantau → dievaluasi → mendapatkan tindak lanjut.

Hal ini menjadi semakin penting ketika ditemukan adanya kesenjangan antara capaian deteksi dengan kepatuhan pengobatan. Kemampuan menemukan kasus sudah berjalan, tetapi tantangan berikutnya adalah memastikan pasien tetap berada dalam pengelolaan pelayanan kesehatan.

Tim Klaster 3 perlu diperkuat melalui kolaborasi:

· dokter;

· perawat;

· nutrisionis;

· tenaga promosi kesehatan;

· tenaga kesehatan jiwa;

· tenaga farmasi;

· tenaga laboratorium;

· tenaga pendukung lainnya.

Melalui pendekatan tim, pelayanan tidak berhenti pada pemberian obat, tetapi berkembang menjadi pengelolaan pasien secara komprehensif.

Klaster 4: Penanggulangan Penyakit Menular

Klaster 4 membutuhkan karakteristik tim yang responsif dan mampu bergerak cepat karena penyakit menular berkaitan dengan individu sekaligus lingkungan.

Program seperti tuberkulosis, HIV/AIDS, hepatitis, penyakit yang berpotensi menimbulkan kejadian luar biasa, serta penyakit menular lainnya membutuhkan kemampuan deteksi dini, pelacakan, pengobatan, pemantauan, investigasi, edukasi dan koordinasi.

Tim idealnya terdiri atas:

· dokter;

· perawat;

· tenaga surveilans;

· tenaga laboratorium;

· tenaga promosi kesehatan;

· tenaga farmasi;

· petugas program penyakit menular;

· tenaga administrasi dan pengelola data.

Keberhasilan Klaster 4 tidak hanya diukur dari banyaknya kasus yang ditemukan, tetapi juga dari kemampuan sistem dalam memastikan kasus mendapatkan penanganan dan tidak menjadi sumber penularan lebih lanjut.

Lintas Klaster: Pelayanan yang Tidak Bisa Berdiri Sendiri

Di antara seluruh klaster tersebut terdapat pelayanan lintas klaster yang menjadi penghubung.

Promosi kesehatan, konseling terpadu, laboratorium, kefarmasian, pelayanan gigi dan mulut, gawat darurat, rujukan, serta pelayanan penunjang lainnya tidak dapat berjalan hanya untuk satu klaster.

Seorang pasien dapat masuk dari satu pintu pelayanan, kemudian membutuhkan pelayanan dari beberapa profesi dan beberapa klaster.

Tim lintas klaster dibutuhkan bukan sekadar pembagian pegawai berdasarkan ruangan.

Konsep ini penting karena pasien tidak datang dengan membawa label "Klaster 2" atau "Klaster 3". Pasien datang membawa kebutuhan kesehatan yang terkadang saling berkaitan.

Seorang ibu hamil dapat membutuhkan pelayanan gizi. Pasien dewasa dapat membutuhkan pemeriksaan laboratorium dan konseling. Pasien lansia dapat membutuhkan pengelolaan penyakit kronis sekaligus dukungan kesehatan jiwa. Pasien dengan penyakit menular membutuhkan pemeriksaan, pengobatan, edukasi dan surveilans.

Inilah alasan mengapa koordinasi lintas klaster menjadi kebutuhan mutlak.

Kebutuhan Tim Tidak Selalu Sama dengan Kebutuhan Pegawai

Salah satu hal yang perlu dipahami dalam perencanaan SDM adalah perbedaan antara jumlah pegawai dan jumlah anggota tim yang dibutuhkan.

Satu orang pegawai dapat menjalankan lebih dari satu fungsi apabila kompetensinya memungkinkan. Sebaliknya, satu fungsi yang sangat penting tidak seharusnya hanya bergantung pada satu orang karena akan menimbulkan risiko apabila petugas tersebut cuti, mengikuti pelatihan, pindah tugas atau memiliki tugas lain.

Setiap Klaster Idealnya Memiliki:

Penanggung Jawab + Koordinator + Anggota Tim + Tenaga Pendukung.

Struktur tersebut akan membuat pelayanan lebih tahan terhadap perubahan dan tidak bergantung pada individu tertentu.

Analisis Kesenjangan SDM

Jika kebutuhan SDM dibandingkan dengan kondisi yang tersedia, maka terdapat beberapa persoalan yang perlu menjadi perhatian Puskesmas Drajatadalah sebagai berikut:

1. Masih terdapat profesi tertentu yang jumlahnya belum memenuhi kebutuhan standar.

2. Terdapat tenaga yang sudah memenuhi standar, tetapi beban kerjanya dapat meningkat karena merangkap berbagai program.

3. Tenaga kesehatan tidak hanya menjalankan pelayanan klinis, tetapi juga harus melaksanakan pencatatan, pelaporan, koordinasi, monitoring, evaluasi, serta pengoperasian berbagai aplikasi.

4. Terdapat kebutuhan tenaga pendukung administrasi yang semakin penting karena kompleksitas administrasi pelayanan kesehatan semakin tinggi.

5. Pembagian pegawai harus memperhatikan kontinuitas pelayanan. Jangan sampai suatu klaster terlihat lengkap secara struktur, tetapi secara operasional kekurangan tenaga pada jam atau kegiatan tertentu.

Strategi Pemenuhan Kebutuhan

Pemenuhan kebutuhan SDM Puskesmas Drajat dapat dilakukan secara bertahap.

1. Redistribusi Internal

Melakukan pemetaan ulang pegawai berdasarkan kompetensi, beban kerja dan kebutuhan masing-masing klaster.

2. Penguatan Tim Lintas Klaster

Membentuk tim yang dapat mendukung beberapa klaster sekaligus sehingga sumber daya dapat digunakan secara lebih efisien.

3. Pemenuhan Tenaga yang Kritis

Mengusulkan pemenuhan tenaga yang memiliki kesenjangan paling besar terhadap standar dan kebutuhan pelayanan.

4. Penguatan Tenaga Administrasi

Pekerjaan administratif yang tidak membutuhkan kompetensi klinis perlu mendapatkan dukungan tenaga administrasi agar tidak seluruhnya dibebankan kepada tenaga kesehatan.

5. Pengembangan Kompetensi

Kekurangan SDM tidak selalu dapat diselesaikan dengan penambahan pegawai. Sebagian dapat diatasi dengan meningkatkan kompetensi pegawai yang tersedia melalui pelatihan, pembinaan dan penugasan yang sesuai kompetensi.

6. Analisis Beban Kerja Berkala

Analisis kebutuhan pegawai perlu diperbarui secara berkala karena jumlah kunjungan, program, sasaran, aplikasi dan kebijakan dapat berubah.

Kekuatan Puskesmas Drajat bukan hanya ditentukan oleh berapa banyak pegawai yang dimiliki, tetapi oleh seberapa tepat pegawai tersebut ditempatkan, seberapa jelas perannya dan seberapa kuat kerja timnya.

Puskesmas dengan jumlah pegawai yang banyak belum tentu memiliki pelayanan yang kuat apabila distribusinya tidak tepat. Sebaliknya, tim yang solid, pembagian tugas yang jelas, koordinasi yang baik serta dukungan SDM yang sesuai kompetensi dapat membuat pelayanan berjalan jauh lebih efektif.

Kebutuhan SDM di Puskesmas Drajat harus dipandang sebagai investasi pelayanan publik. Setiap tambahan tenaga bukan sekadar tambahan jumlah pegawai, tetapi harus diterjemahkan menjadi tambahan kapasitas pelayanan kepada masyarakat.

Penataan SDM berdasarkan klaster perlu diarahkan pada satu tujuan:

Pegawai Yang Tepat, Di Tempat Yang Tepat, Dengan Kompetensi Yang Tepat, Bekerja Dalam Tim Yang Tepat, Untuk Memberikan Pelayanan Yang Tepat Kepada Masyarakat.

Pendekatan tersebut membuat transformasi pelayanan berbasis klaster di Puskesmas Drajat tidak hanya menjadi perubahan struktur organisasi, tetapi benar-benar menjadi perubahan cara bekerja menuju pelayanan kesehatan yang lebih terintegrasi, efektif, responsif dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.